Wolters Kluwer: 92% Lawyer Adopsi AI, Ini Istilah Kunci yang Wajib Dikuasai
XJABAR.COM – Lebih dari 92 persen lawyer di dunia kini menggunakan setidaknya satu alat berbasis kecerdasan buatan dalam praktik hukum mereka. Data itu berasal dari Future Ready Lawyer Survey 2026 yang dirilis Wolters Kluwer pada Maret 2026, melibatkan 810 profesional hukum dari Amerika Serikat, China, dan sembilan negara di Eropa.
Angka tersebut menegaskan satu hal: AI bukan lagi tren pinggiran di dunia hukum. Ia sudah menjadi infrastruktur kerja.
AI dan Profesi Hukum: Dari Konservatif ke Adaptif
Istilah artificial intelligence bukan barang baru. Dalam ilmu komputer, konsep ini sudah dikenal sejak era 1950-an. Namun, perbincangan luas di masyarakat baru benar-benar meledak pada akhir 2022, seiring kemajuan pesat mesin pembelajaran yang melahirkan berbagai terobosan berdampak luas.
Profesi hukum yang selama ini dikenal konservatif pun tak luput dari gelombang transformasi itu. Para lawyer mulai mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan sehari-hari mereka, mulai dari analisis dokumen kontrak hingga penyusunan draf hukum.
Tingginya adopsi yang dicatat Wolters Kluwer menunjukkan pergeseran yang nyata. Meski demikian, satu tantangan utama masih menghadang: pemahaman terhadap istilah-istilah dasar AI, terutama di kalangan praktisi yang tidak berlatar belakang teknologi.
14 Istilah AI yang Perlu Diketahui Lawyer

Fondasi Teknis: Cara AI Bekerja
Titik awal memahami AI adalah algorithm—serangkaian instruksi yang digunakan komputer untuk memproses data dan menghasilkan output. Algoritma adalah tulang punggung setiap sistem AI.
Di atasnya berdiri big data, yakni kumpulan data dalam jumlah masif yang menjadi fondasi pelatihan sistem AI. Tanpa data berlimpah, kemampuan AI tidak akan bisa berkembang.
Data pelatihan itu sendiri disebut training data—kumpulan informasi yang digunakan agar AI dapat belajar mengenali pola dan bekerja secara optimal.
Bahasa dan Pemahaman Teks
Teknologi natural language processing (NLP) memungkinkan AI memahami dan menggunakan bahasa manusia. Inilah yang membuat AI mampu membaca dokumen hukum, menafsirkan klausul kontrak, atau merespons pertanyaan dalam bahasa sehari-hari.
Di atas NLP, terdapat large language model (LLM)—model AI yang dilatih menggunakan data teks dalam skala raksasa agar mampu memahami sekaligus menghasilkan bahasa manusia. Salah satu bentuk LLM paling dikenal adalah GPT atau Generative Pre-trained Transformer, jenis model bahasa yang dilatih khusus untuk menghasilkan teks secara natural dan koheren.
Untuk mengarahkan kerja sistem-sistem tersebut, pengguna menggunakan prompt—instruksi yang dimasukkan ke dalam sistem AI, bisa berupa teks, gambar, atau kode, untuk memberi perintah kepada mesin.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK), lifestyle, dan zodiak. Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.





