Lifestyle

Punya Pacar tapi Tetap Kesepian? Psikolog Sebut 3 Kebiasaan Ini Biang Keroknya

64
×

Punya Pacar tapi Tetap Kesepian? Psikolog Sebut 3 Kebiasaan Ini Biang Keroknya

Sebarkan artikel ini
Psikolog Mark Travers jelaskan 3 kebiasaan kecil yang bikin seseorang tetap kesepian meski sudah punya pacar, dari phubbing hingga kebiasaan mendengar yang buruk.
Psikolog Mark Travers jelaskan 3 kebiasaan kecil yang bikin seseorang tetap kesepian meski sudah punya pacar, dari phubbing hingga kebiasaan mendengar yang buruk.

Fenomena ini dikenal sebagai phubbing, gabungan dari kata phone dan snubbing. Travers mendefinisikannya sebagai kondisi ketika seseorang lebih sibuk dengan ponselnya daripada mempedulikan lawan bicaranya.

“Meskipun tidak ada konflik yang nyata, interaksi tersebut bisa membuat perasaan jadi ‘kempis’ atau patah semangat,” terang Travers.

Sebuah penelitian pada 2023 menunjukkan bahwa pengabaian berbasis gawai semacam ini berkorelasi erat dengan rasa kesepian dan penurunan kepuasan hidup pada pasangan yang mengalaminya. Bahayanya bukan pada konfrontasi terbuka—melainkan pada tumpukan kekesalan kecil yang tidak terlihat tapi terus menumpuk.

Travers menggunakan analogi yang tepat untuk menggambarkan dinamika ini. “Perhatian adalah bentuk ‘mata uang’ dalam hubungan romantis. Diperhatikan berarti diakui. Jika seseorang merasa seolah-olah perhatian itu berulang kali dialihkan, itu dapat membuat pasangan percaya bahwa mereka tidak sepenting apa yang ada di layar,” ujarnya.

Kebanyakan orang melakukan phubbing bukan karena ingin menyakiti pasangan, melainkan karena sudah menjadi refleks rutinitas. Tapi hubungan tidak dibentuk oleh niat—melainkan oleh dampak yang dirasakan.

2. Menutup Diri Saat Konflik: Diam yang Melukai

Ketegangan dalam hubungan adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah ketika salah satu pihak merespons perselisihan dengan menghilang sepenuhnya—bersikap cuek, menghindari kontak mata, atau meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata.

Travers menjelaskan bahwa pola ini sering kali muncul sebagai mekanisme pertahanan diri. “Bagi pihak yang melakukannya, ini mungkin bentuk pertahanan diri karena kewalahan dan tidak yakin harus berkata apa selanjutnya. Diam bisa terasa jauh lebih aman daripada mengatakan hal yang salah. Tetapi bagi orang yang menerimanya, pengalamannya sangat berbeda,” terangnya.

Penutupan emosi ini, menurut Travers, sangat merusak fondasi komunikasi dan sering menjadi pemicu utama keretakan hubungan jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *