Lifestyle

Psikiater Jelaskan 3 Tanda PMDD yang Lebih Berat dari PMS dan Cara Penanganannya

14
×

Psikiater Jelaskan 3 Tanda PMDD yang Lebih Berat dari PMS dan Cara Penanganannya

Sebarkan artikel ini
Psikiater dr. Elvine Gunawan jelaskan PMDD, gangguan psikiatri lebih berat dari PMS yang bisa memicu depresi berat dan berulang tiap siklus. Kenali tanda dan kapan harus ke dokter.
Psikiater dr. Elvine Gunawan jelaskan PMDD, gangguan psikiatri lebih berat dari PMS yang bisa memicu depresi berat dan berulang tiap siklus. Kenali tanda dan kapan harus ke dokter.

Kapan Harus Mencari Bantuan?

Dr. Elvine menegaskan bahwa kesadaran diri adalah langkah pertama yang paling penting. Jika seseorang mulai menyadari bahwa kondisi emosional selama menstruasi terasa tidak normal — terlalu berat, terlalu mengganggu, atau berbeda dari pengalaman perempuan lain di sekitarnya — itu adalah sinyal untuk segera berkonsultasi.

“Jika menyadari dalam proses menstruasi merasa nggak baik-baik saja, itu sebaiknya dikonsultasikan ke psikiater. Bisa ke dokter Obgyn dulu untuk melihat kondisi hormon,” ujarnya.

Pemeriksaan ke dokter spesialis kandungan (Obgyn) bisa menjadi pintu masuk awal untuk menilai kondisi hormonal yang mungkin menjadi faktor penyebab. Dari sana, rujukan ke psikiater dapat dilakukan jika diperlukan penanganan di sisi kesehatan mental.

Keterbukaan Sebagai Alat Deteksi Dini

Dr. Elvine juga menekankan peran penting keterbukaan — baik dengan sesama perempuan maupun dengan tenaga kesehatan. Berbagi pengalaman tentang kondisi selama menstruasi bukan sekadar curhat, tetapi bisa menjadi alat bantu untuk mengenali apakah yang dialami masih dalam rentang normal atau sudah melampaui batas.

Membandingkan pengalaman dengan orang lain secara terbuka membantu seseorang mengenali pola yang mungkin selama ini dianggap wajar, padahal sebenarnya tidak. Jika ada perbedaan yang dirasakan signifikan, klarifikasi dengan profesional kesehatan adalah langkah yang tepat.


Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi atau diagnosis medis profesional. Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang disebutkan dalam artikel ini, segera konsultasikan dengan dokter, psikiater, atau tenaga kesehatan terpercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *