Lifestyle

Psikiater Jelaskan 3 Tanda PMDD yang Lebih Berat dari PMS dan Cara Penanganannya

3
×

Psikiater Jelaskan 3 Tanda PMDD yang Lebih Berat dari PMS dan Cara Penanganannya

Sebarkan artikel ini
Psikiater dr. Elvine Gunawan jelaskan PMDD, gangguan psikiatri lebih berat dari PMS yang bisa memicu depresi berat dan berulang tiap siklus. Kenali tanda dan kapan harus ke dokter.
Psikiater dr. Elvine Gunawan jelaskan PMDD, gangguan psikiatri lebih berat dari PMS yang bisa memicu depresi berat dan berulang tiap siklus. Kenali tanda dan kapan harus ke dokter.

Bukan Sekadar PMS: Psikiater Jelaskan PMDD dan Kapan Harus ke Dokter

XJABAR.COM – Perubahan suasana hati menjelang dan saat menstruasi kerap dianggap wajar dan tidak perlu ditangani secara serius. Namun psikiater dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ mengingatkan ada kondisi yang jauh melampaui batas normal tersebut — dan berpotensi berbahaya jika dibiarkan tanpa penanganan.

Kondisi itu bernama Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), sebuah gangguan psikiatri yang gejalanya jauh lebih berat dari sindrom pramenstruasi (PMS) yang lebih umum dikenal. Dr. Elvine menyampaikan hal ini dalam Press Conference Comfort Made Together: Building a Supportive World Around Menstruation with Laurier, di Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).

PMDD Bukan Versi Berat PMS Biasa

Banyak perempuan yang sudah familiar dengan PMS — kumpulan gejala fisik dan emosional yang muncul beberapa hari sebelum menstruasi. PMDD berbeda secara kategori, bukan hanya derajat.

“Harus hati-hati juga ada gangguan psikiatri yaitu premenstrual dysphoric disorder (PMDD), di atas PMS. Kalau sedih itu seseorang bisa depresif banget, sampai tidak mau keluar di masa menstruasi,” tutur dr. Elvine.

Gejala emosional pada PMDD bisa begitu intens hingga mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalani rutinitas harian. Bukan sekadar sensitif atau mudah tersinggung, tetapi depresi berat yang membuat penderitanya tidak mampu berfungsi normal.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Suasana Hati Jauh Lebih Depresif dari Orang Sekitar

Dr. Elvine menjelaskan bahwa salah satu penanda khas PMDD adalah intensitas emosi yang tidak proporsional dibandingkan respons orang lain dalam situasi serupa.

“Biasanya mood-nya jauh lebih depresif dibandingkan orang lain. Pada beberapa klien bahkan sampai ada kepikiran mau ide bunuh diri, atau misalnya menyakiti diri,” jelasnya.

Pernyataan ini penting untuk dicermati. Munculnya pikiran untuk menyakiti diri atau bahkan keinginan mengakhiri hidup selama periode menstruasi bukanlah gejala yang bisa diabaikan atau dianggap bagian dari “drama hormonal” semata. Ini adalah gejala klinis yang membutuhkan perhatian profesional segera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *