Lifestyle

Ibu ASN Jakarta Cerita Cara Bertahan Saat WFH: Bayi Nangis, Bos Chat Bersamaan

10
×

Ibu ASN Jakarta Cerita Cara Bertahan Saat WFH: Bayi Nangis, Bos Chat Bersamaan

Sebarkan artikel ini
Dua ASN perempuan Pemkot Jakarta Timur berbagi strategi nyata menghadapi WFH setiap Jumat — dari menyelesaikan rumah sebelum jam 8 hingga "menghilang" demi fokus kerja.
Dua ASN perempuan Pemkot Jakarta Timur berbagi strategi nyata menghadapi WFH setiap Jumat — dari menyelesaikan rumah sebelum jam 8 hingga "menghilang" demi fokus kerja.

WFH Jumat ASN Jakarta: Saat Laptop Kantor dan Rengekan Bayi Bersaing di Ruang yang Sama

XJABAR.COM – Kebijakan work from home (WFH) setiap Jumat bagi ASN DKI Jakarta membawa kelonggaran komuter — namun bagi ibu bekerja, perpindahan meja kantor ke ruang rumah justru menciptakan beban ganda yang menuntut strategi bertahan harian.

Batas yang Buram Antara Kantor dan Dapur

Sejak April lalu, pemerintah daerah memberlakukan skema WFH berkala setiap Jumat bagi Aparatur Sipil Negara sebagai langkah mengurangi beban kemacetan ibu kota. Di atas kertas, kebijakan ini tampak sederhana: pegawai cukup membuka laptop dari rumah, tanpa perlu antre di gerbang tol atau berdesakan di MRT.

Kenyataannya jauh lebih rumit bagi pegawai perempuan. Dua peran yang biasanya terpisah oleh jarak komuter — profesional negara dan ibu rumah tangga — kini harus dijalankan dalam satu atap yang sama, kerap dalam satu waktu yang bersamaan.

Instruksi mendadak dari grup WhatsApp kantor bisa muncul tepat saat tangan masih memegang sapu. Bayi bisa menangis persis ketika tenggat laporan tinggal hitungan menit. Tidak ada sekat fisik yang memisahkan keduanya — dan di situlah kompleksitas sesungguhnya dimulai.

Strategi Ika: Selesaikan Semua Sebelum Jam Delapan

Bagi Ika Meilani Untari (42), ASN Pemkot Jakarta Timur, solusinya terletak pada satu variabel yang sepenuhnya bisa ia kendalikan: waktu sebelum jam kerja dimulai.

Ibu dari Rasyad (16), remaja laki-laki yang sudah duduk di bangku SMA, ini menjadikan manajemen waktu pagi hari sebagai fondasi agar hari kerjanya tidak berubah menjadi arena kekacauan.

“Kalau aku, biasanya aku akan menyelesaikan semua pekerjaan itu sebelum jam kerja,” kata Ika saat dihubungi pada Minggu (3/5/2026).

Pekerjaannya sebagai ASN menuntut konsentrasi tinggi dalam menganalisis data — aktivitas yang tidak bisa dilakukan sambil menyapu atau mengelap meja. Maka ia menetapkan satu garis batas yang tidak boleh dilanggar.

“Jam delapan itu diusahakan sudah beres semua gitu urusan rumah,” lanjutnya.

Strategi ini bukan sekadar tips manajemen waktu biasa. Ini adalah sistem pertahanan yang dibangun dari kesadaran bahwa pekerjaan rumah yang belum selesai akan terus menarik perhatian — memecah fokus kerja yang harusnya utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *