Lifestyle

Ibu ASN Jakarta Cerita Cara Bertahan Saat WFH: Bayi Nangis, Bos Chat Bersamaan

11
×

Ibu ASN Jakarta Cerita Cara Bertahan Saat WFH: Bayi Nangis, Bos Chat Bersamaan

Sebarkan artikel ini
Dua ASN perempuan Pemkot Jakarta Timur berbagi strategi nyata menghadapi WFH setiap Jumat — dari menyelesaikan rumah sebelum jam 8 hingga "menghilang" demi fokus kerja.
Dua ASN perempuan Pemkot Jakarta Timur berbagi strategi nyata menghadapi WFH setiap Jumat — dari menyelesaikan rumah sebelum jam 8 hingga "menghilang" demi fokus kerja.

Rasa Bersalah: Berbeda Tergantung Usia Anak

Di balik strategi-strategi praktis itu, ada lapisan psikologis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Rasa bersalah — perasaan bahwa anak tidak mendapat perhatian penuh yang seharusnya — adalah pengalaman yang sangat bergantung pada satu faktor: usia anak.

Bagi Ika, konflik batin itu sudah lama tidak menjadi masalah. Rasyad yang kini berusia 16 tahun sudah mandiri secara fungsional. Tidak ada rengekan yang harus diabaikan, tidak ada pengawasan intensif yang harus diserahkan ke orang lain.

“Rasa bersalah enggak ada, karena ya itu saja, kalau di rumah kan kita bisa sambil bekerja, sambil ngemong anak, sambil ngelihatin gitu,” kata Ika.

Kisah Shinta sama sekali berbeda. Setiap kali harus menutup pintu kamar demi fokus bekerja sementara Shaka menangis di luar, perasaan itu hadir tanpa diundang.

“Ya merasa bersalah sih kadang ada gitu ya. Namanya juga ibu-ibu working mom gitu kan,” kata Shinta.

Ia tidak menolak perasaan itu. Baginya, rasa bersalah adalah konsekuensi yang harus diterima — bukan untuk dilarikan, melainkan untuk dikelola dengan ketegasan yang terus dilatih setiap harinya.

Satu Keterampilan yang Harus Terus Dilatih

Di antara semua strategi yang dijalankan Ika maupun Shinta, ada satu benang merah yang sama: kemampuan menetapkan batas dengan tegas — baik terhadap pekerjaan kantor maupun terhadap urusan rumah — dan menjalankan batas itu tanpa ragu.

Bagi ibu yang masih dikelilingi anak kecil, ini bukan soal teknik manajemen waktu yang bisa dipelajari dari buku. Ini adalah kemampuan bertahan emosional yang dibangun setiap hari, dari setiap situasi yang tidak sempurna.

“Kalau memang yang urgent banget harus fokus, memang harus misah dulu,” tutup Shinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *