Lifestyle

Keith Payne, Psikolog UNC: Ini Batas Aman Membandingkan Diri di Media Sosial

15
×

Keith Payne, Psikolog UNC: Ini Batas Aman Membandingkan Diri di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Psikolog Keith Payne dari UNC ungkap mengapa membandingkan diri di media sosial lebih sering merusak daripada memotivasi, dan cara efektif mengatasinya.
Psikolog Keith Payne dari UNC ungkap mengapa membandingkan diri di media sosial lebih sering merusak daripada memotivasi, dan cara efektif mengatasinya.

Empat Langkah Mitigasi yang Disarankan Pakar

Payne dan kalangan peneliti psikologi merekomendasikan serangkaian pendekatan praktis untuk memutus siklus destruktif perbandingan sosial.

Pertama, batasi paparan aktif terhadap konten yang secara konsisten memicu perasaan tidak cukup. Kurasi feed media sosial secara sadar adalah langkah teknis paling langsung yang dapat dilakukan.

Kedua, kenali nilai inti kehidupan secara personal — seperti kesehatan, hubungan keluarga, atau pertumbuhan spiritual — sebagai tolok ukur relevansi saat rasa iri muncul secara impulsif.

Ketiga, alihkan fokus dari kompetisi eksternal menuju pertumbuhan pribadi. Membandingkan kondisi diri saat ini dengan versi diri di masa lalu dianggap jauh lebih sehat secara psikologis dibandingkan mengukur pencapaian terhadap standar orang lain.

Keempat, latih kesadaran diri secara konsisten sebagai mekanisme pemutus siklus overthinking saat melihat keberhasilan orang lain. Kesadaran bahwa perasaan iri adalah sinyal emosional — bukan penilaian realitas — menjadi kunci dalam langkah ini.

Perbandingan Sosial Bukan Musuh, Tapi Butuh Konteks yang Tepat

Pesan inti dari Payne bukan untuk sepenuhnya menghindari perbandingan sosial, melainkan membangun kesadaran terhadap kondisi saat perbandingan itu dilakukan.

Perbandingan yang dilakukan dari posisi emosional yang stabil, terhadap standar yang relevan dan setara, justru dapat menjadi motivasi positif untuk bertumbuh.

Masalah muncul ketika perbandingan terjadi secara otomatis, di tengah kondisi emosional yang rentan, dan menggunakan tolok ukur yang pada dasarnya tidak bisa dibandingkan secara adil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *