Teknologi

Skandal Penipuan AI Rp25 Triliun Terbongkar, CEO dan CFO iLearning Engines Ditangkap

6
×

Skandal Penipuan AI Rp25 Triliun Terbongkar, CEO dan CFO iLearning Engines Ditangkap

Sebarkan artikel ini
CEO dan CFO iLearning Engines ditangkap atas dugaan penipuan AI senilai Rp25 triliun. Pelanggan dan pendapatan USD 421 juta diklaim sepenuhnya fiktif sejak 2019.
CEO dan CFO iLearning Engines ditangkap atas dugaan penipuan AI senilai Rp25 triliun. Pelanggan dan pendapatan USD 421 juta diklaim sepenuhnya fiktif sejak 2019.

“Sebagaimana yang dituduhkan, para terdakwa mengeksploitasi antusiasme investor terhadap ledakan tren AI dan menyajikan prospek keuangan yang indah kepada para investor dan pemberi pinjaman, padahal itu semua dibangun di atas kebohongan,” ungkap Departemen Kehakiman AS.

Dua Eksekutif Raup Jutaan Dolar dari Skema Penipuan

Chidambaran dan Naqvi diduga menikmati hasil penipuan secara pribadi dalam jumlah besar. Chidambaran disebut menerima lebih dari USD 500 juta dalam bentuk saham biasa, ditambah gaji USD 700.000 antara 2023 dan 2024, serta saham terbatas senilai USD 12,5 juta.

Keduanya dikategorikan sebagai konspirator dalam sindikat kejahatan keuangan — bukan sekadar eksekutif yang lalai, melainkan aktor utama yang secara aktif merancang skema penipuan dari awal.

Tren Mengkhawatirkan: Penipuan Berkedok AI Melonjak 33%

Kasus iLearning bukan anomali. Menurut The Hill, Laporan Kejahatan Internet FBI mencatat lebih dari 22.000 pengaduan terkait penipuan AI sepanjang 2025, dengan estimasi kerugian mencapai USD 900 juta — naik sekitar 33 persen dibanding tahun sebelumnya.

Euforia investor terhadap teknologi AI menciptakan celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan. Nama besar “AI” cukup untuk menarik modal masuk tanpa due diligence yang memadai — dan iLearning membuktikan betapa mahalnya harga dari kelengahan itu.

FAQ

Q: Apa itu iLearning Engines dan mengapa perusahaan ini bermasalah?
A: iLearning Engines adalah perusahaan teknologi yang mengklaim sebagai platform AI bernilai USD 1,5 miliar. Departemen Kehakiman AS mendakwa perusahaan ini memalsukan hampir seluruh informasi bisnisnya sejak 2019, termasuk data pelanggan dan pendapatan yang sepenuhnya fiktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *